Naskhah yang bermain emosi antara sedih dan marah sebab berkait hal kekerasan fizikal dan penindasan/eksploitasi wanita dalam plot imbas semula dari perspektif Firdaus, seorang perempuan yang menjadi korban patriaki dan diskriminasi sehingga dipenjara dan dihukum maut kerana membunuh. Alur plot yang sarat intens dan tragis— bermula dari kisah keluarga Firdaus ke hari-hari dia harus tinggal bersama pamannya, dinikah paksa atas aturan keluarga si paman dan akhirnya tekad untuk melarikan diri.
Firdaus yang belajar hidup sendiri namun pertemuannya dengan beberapa lelaki tidak berakhir seperti yang diharap kerana sering diambil kesempatan dan dijadikan mangsa nafsu. Tak ada sosok yang mengajar Firdaus untuk membela diri atau sudi melindungi nasibnya sehingga di penghujung hidupnya juga Firdaus dikecam sebagai wanita murahan, dicaci dengan prejudis, terjerat dalam tradisi dan didiamkan keadilannya.
Suka cara penulis eksplorasikan hal salahguna peranan terutama kepada sosok lelaki yang sepatutnya bersifat ‘menjaga’, ada kritik sosial dalam masyarakat Arab yang sinis dan selitan watak-watak wanita (termasuk ibu Firdaus) yang mengabaikan dan mempergunakan Firdaus buat aku fikir— ini tentang sikap dan empati diri, bukan tentang jantina. Agak menarik juga baca sisipan naratif dan perspektif penulis di awal dan akhir cerita— impak dan refleksi kasus Firdaus yang mengharukan. “Oleh karena dunia penuh dusta, ia harus membayar harganya dengan kematian.”
4/5*