Di akhir buku ini ada sudut kolom dengan kutipan dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad berjudul Thukul yang menarik perhatian saya.
"...yang indah memang bisa meluas: semacam tarikan cinta yang misterius-- itu sebabnya ia, seperti Kollwitz, tak hanya menggoreskan teriak, tapi puisi: suara lirih yang akrab dan tajam di catatan kaki."
(Dia tak seharusnya hilang.)