Dah lama juga teringin nak cuba baca naskhah Ahmad Tohari jadi beli karya kumpulan 15 cerita pendeknya ini dulu untuk bacaan pertama. Digarap dalam tema sosial, kekeluargaan, moraliti, perhubungan, isu spiritual dan refleksi kehidupan masyarakat dan konflik harian, ceritera Mata Yang Enak Dipandang agak ringan bagi aku namun penuh kiasan yang tersirat dan sinikal. Suka dengan gaya narasi penulis yang bersahaja— babak dan interaksi karakternya berbahas konteks sekitar naratif jadi tak ada adegan yang lewah atau terlalu deskriptif. Pemilihan watak-watak yang marginal dengan karakterisasi dan dinamik yang sederhana dalam alur cerita yang mencengkam dan bermain emosi juga simpati.
Antara cerpen kegemaran— Mata Yang Enak Dipandang (tentang sisi gelap dunia mengemis; “…mata orang yang memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi enak dipandang.”), Daruan (kisah seorang penulis yang menanti wang honor karyanya yang belum terjual), Warung Penajem (apa saja sanggup dilakukan demi melunas hidup; “Peningkatan ekonomi itu ternyata telah menuntut pengorbanan yang luar biasa dan mahal.”), Harta Gantungan (tentang kemiskinan dan perihal kekeluargaan; antara cerpen paling sedih bagi aku) dan Bulan Kuning Sudah Tenggelam (berlegar masalah perhubungan antara suami dan isteri juga ayah dan anak). Beberapa kisahnya bersifat sureal dan mistik (Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan, Pemandangan Perut, Salam Dari Penyangga Langit) namun masih diangkat dalam tema kemasyarakatan dan konflik sosial/domestik yang sama.
Tak ada twist atau klimaks berat, ada intens dan saspens namun pengakhirannya yang masih biasa saja tetap menimbulkan perasaan senang menjamah setiap perinci cerita. Satu naskhah yang agak menarik kalau suka tema gaya hidup dengan kisah jiwa-jiwa yang dihurung runsing, menghadap pengorbanan dan kehilangan; realiti yang barangkali pernah berkait dengan kisah hidup kita sendiri. 4 bintang untuk naskhah ini!